Aktivis Lintas Generasi Dorong Penguatan Melawan Pandemi

Jakarta Kartakita-Perkumpulan gerakan Kebangsaan (PGK) mengadakan Webinar terkait Pandemi Covid 19 bersama para aktivis pada Selasa (16/6). Webinar ini secara spesifik membahas kebijakan penanganan dan penganggaran penanganan dampak COVID-19 yang baru saja dinaikkan dari Rp677,2 triliun menjadi Rp695,2 triliun harus diawasi bersama. Ini dilakukan untuk memastikan penggunaannya tepat sasaran  serta transparan.

Acara yang dipandu oleh Mantan Ketua Umum DPP GPII Karman BM ini menghadirkan para pentolan aktivis lintas generasi yaitu Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Aktivis Senior Hariman Siregar, Menseskab Pramono Anung, Aktivis Senior Maruarar Sirait, Anggota DPR-RI Masinton Pasaribu, Aktivis Senior Syahganda Nainggolan, Pengamat Politik Ichsan Loulembah, Mantan Ketua Umum GMNI Twedy Ginting, dan Mantan Ketua Umum KAMMI Kartika Nur Rakhman.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sebagai pembuka webinar  mengingatkan bahwa kenaikan anggaran penanganan dampak COVID-19, pengelolaannya haruslah diawasi ketat. “Dengan pengelolaan yang akuntabel kita tidak perlu lagi mendengar adanya skandal dalam penanggulangan Covid-19 ini. Kita juga tidak ingin lagi mendengar ada Hak Angket Century berikutnya dengan judul yang berbeda, cukuplah itu menjadi sejarah masa lalu yang menjadi pembelajaran bagi bangsa kita,” kata Bamsoet.

Hal senada disampaikan oleh Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyebutkan bahwa tugas pemerintah selain membuat kebijakan yang baik dan acceptable, juga turut memberikan pelayanan yang baik bagi publik. Menurutnya kondisi seperti apapun negara harus bertindak cepat. “Semua negara tergagap-gagap, negara yang sistem kesehatan terbaik pun hingga saat ini masih buka-tutup karena mereka tidak bisa menyatakan dengan pasti suatu daerah benar-benar sudah terbebas Covid-19,” kata Pramono.

Ichsan Loulembah dalam kesempatannya  juga menyampaikan  kita harus menempatkan science sebagai garda terdepan melawan covid. “Kita harus kembali kepada budaya kita gotong royong untuk bahu membahu bersama melawan covid. Kita tidak bisa untuk hanya selalu mengandalkan satu pihak (pemerintah) untuk terus membantu kita”, tambah Ichsan.

Ada juga aktivis muda dan juga Ketua Umum GMNI 2013-2015 Twedy Noviady, menyampaikan dalam situasi covid saat ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia  memiliki  solidaritas  yang masih tinggi. Disisi lain, ia mengatakan rasa patuh hukum dan disiplin masyarakat masih rendah. “Tingkat disiplin kita masih rendah dan harus diperbaiki. Kita masih kekurangan alat medis/alkes. Ini ibarat kita ingin maju berperang, tapi tak punya peralatan tempur. Covid dapat dianggap perang dunia di bidang kesehatan, juga dapat dianggap  bisnis di bidang kesehatan, pungkasnya.

Nurakhman yang merupakan aktivis KAMMI mengatakan bahwa Indonesia harus belajar dari sejarah virus flu di spanyol yang saat itu mampu menyebabkan lebih dari 50jt orang meninggal agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi. “ Perketat aturan terkait protokol kesehatan untuk mengurangi potensi penyebaran.  Indonesia sebenarnya masih dalam fase first wave (gelombang pertama). Kita belum pernah mengalami penurunan gejala penyebaran covid, setiap hari selalu mengalami peningkatan”, tutup Nurakhman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *