Arif Kuswardono Apresiasi Pemanfaatan Teknologi Mengatasi Covid-19

Jakarta, Karta Kita — Komisioner Komisi Informasi Pusat Arif A.Kuswardono mengapresiasi penggunaan teknologi informasi untuk mengendalikan mata rantai penyebaran Covid-19. Hal ini disampaikan kepada karta kita pada siaran pers KIP, Jumat, (27/03/2020).

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada para pengembang aplikasi Tracetogether. Juga kepada semua kalangan Pos dan Informatika, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika yang telah mendukung dengan menerbitkan Surat Keputusan Menkominfo No. 159 Tahun 2020 tentang Upaya Penanganan Covid-19 Melalui Dukungan Sektor Pos dan Informatika.” terang Arif.

Arif menjelaskan keberadaan aplikasi Tracetogether mampu menelusuri, melacak, melakukan pengurungan dan peringatan terhadap pasien positif Covid-19. Salah satu metode aplikasi ini mampu melakukan pelacakan selama 14 hari ke belakang interaksi smartphone pasien positif Covid-19. Menariknya aplikasi ini akan memberikan peringatan kepada masyarakat yang sempat berinteraksi dengan pasien tersebut melalui smartphone mereka masing-masing.

“Aplikasi karya anak bangsa ini patut diapresiasi karena memungkinkan operator telekomunikasi melakukan tracing (penelusuran), tracking (pelacakan), fencing (pengurungan) dan warning (peringatan) terhadap pasien positif Covid-19. Aplikasi ini akan men-tracking 14 hari mundur, berbasis interaksi smartphone pasien Covid-19. Saat bersamaan aplikasi memberikan peringatan kepada masyarakat terkait dengan pasien lewat smartphone masing-masing. Hal ini serupa dengan sistem pelacakan yang diterapkan di Singapura dan Korea Selatan yang terbukti efektif menekan penyebaran Covid-19.” jelasnya.

Menurutnya aplikasi Tracetogether ini perlu diberlakukan secepat-cepatnya untuk mendukung kegiatan surveilans kesehatan oleh pihak-pihak terkait, seperti BNPB, Kementerian Kesehatan, Satgas Percepatan Nasional dan Daerah, Operator Telekomunikasi dan sebagainya, sesuai dengan regulasi dibidang informasi publik, kesehatan, kebencanaan, telekomunikasi dan sebagainya.

Tidak hanya itu, partisipasi publik dan pihak-pihak terkait juga perlu didorong agar aplikasi ini berfungsi efektif sebagai alat pengumpulan, pengolahan dan analisa data agar dapat menghasilkan informasi yang obyektif secara antar waktu, antar wilayah dan antar kelompok sebagai alat pengambilan keputusan dan mitigasi.

“Perlu dicatat pemberlakuan aplikasi ini harus menjadi pintu masuk membangun data base terkait Covid-19. Dengan data yang baik, kita akan lebih siap melakukan penanganan maupun mitigasi di saat sekarang maupun masa mendatang.” ujar Arif.

Arif menyarankan pemerintah agar menerbitkan protokol atau regulasi yang menjamin perlindungan, baik kepada operator maupun stakeholder lainnya, terkait penggunaan data pribadi pasien Covid-19.

“Pemerintah perlu menerbitkan regulasi untuk melindungi operator dan stakeholder juga jaminan atas data pribadi pasien yang diserahkan kepada pihak ketiga. Karena sangat terbuka, aplikasi akan terus berkembang, sesuai kebutuhan publik maupun perkembangan penanganan Covid-19.” tutupnya. (agp/kartakita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *