Austria Jual Eurofighter Typhoon, Indonesia Berminat?

Opini, Karta Kita — Setelah mengoperasikan armada Eurofighter Typhoon nya selama kurang lebih 15 tahun, Angkatan Udara Austria mempertimbangkan untuk memensiunkan seluruh armada Eurofighter Typhoon mereka.

Baca juga: Jika Osprey Kemahalan, Chinook Solusinya

Saat ini, AU Austria memang mengoperasukan 15 unit Eurofighter Typhoon varian Trache-1. Selain biaya upgrade yang lumayan mahal, Typhoon Austria sendiri sempat tersandung masalah korupsi dalam pengadaannya dulu sehingga pemerintah Austria enggan untuk memperpanjang masa pakai nya.

Kemungkinan Typhoon Austria akan digantikan oleh F-16 Viper atau JAS-39 Grippen. Gayung bersambut, mendengar kabar ini Indonesia yang memang sedang membutuhkan tambahan pesawat tempur untuk kebutuhan pertahanan udaranya mengirimkan surat penawaran akuisisi Eurofighter Typhoon bekas pakai AU Austria tersebut.

Sebelumnya Eurofighter Typhoon sendiri pernah ditawarkan langsung oleh Airbus Military kepada Indonesia dengan menggandeng mitranya PT Dirgantara Indonesia ketika mengikuti tender pengganti F-5 Tiger pada tahun 2015 silam.

Keuntungan jika Indonesia berhasil mendapatkan Typhoon dari Austria adalah Indonesia bisa mendapatkan 1 skuadron full pesawat tempur siap pakai dengan cepat. Jika membeli pesawat baru, biasanya pengiriman gelombang pertama dari pabrikan pesawat tempur akan datang paling cepat 1-2 tahun setelah kontrak berjalan efektif.

Selain itu, untuk keuntungan jangka pendek, Indonesia bisa menghemat biaya pengadaan pesawat tempur karena biaya pembelian pesawat tempur bekas tidak akan semahal membeli yang baru. Indonesia sendiri bisa menjadikan Typhoon sebagai pengganti F-5 tiger, atau membentuk skadron baru yang nanti nya kemungkinan akan ditempatkan di Lanud El Tari, Nusa Tenggara Timur atau Papua.

Ruang udara di wilayah Indonesia Timur-Selatan pun akan lebih dapat tercover dengan adanya pengadaan 1 skuadron pesawat tempur baru ini nantinya. Apalagi negara tetangga kita di selatan, Australia, juga sedang gencar-gencarnya memodernisasi alutsista udara mereka seperti pembelian 72 pesawat tempur F-35A Lightning II

Namun kekurangan nya adalah, pesawat yang ditawarkan oleh Austria merupakan Eurofighter Typhoon versi Tranche-1 yang merupakan versi awal (Basic Air Defence Capability) dengan masa pakai hampir 15 tahun. Jika Indonesia ingin mengupgrade teknologi dan airframe nya, kemungkinan biaya yang harus dikeluarkan nanti nya akan lebih besar.

Membeli pesawat tempur “bekas pakai” juga membuat daya detterent nya akan dianggap kurang maksimal karena teknologi dan isi “jeroan” pesawat nya kemungkinan sudah diketahui oleh lawan. Nah agar dapat lebih efektif, Indonesia disarankan untuk upgrade Typhoon ini nantinya, minimal menjadi seteara dengan versi Tranche-2 yang sudah memiliki kemampuan BVR dan serang presisi.

Apalagi saat ini hampir seluruh pesawat tempur TNI hampir berusia 20 tahunan bahkan lebih dan kebutuhan pesawat tempur canggih semakin urgent di Indonesia mengingat situasi geopolitik dikawasan yang terus menghangat.

Akan tetapi, Typhoon tetaplah pesawat tempur canggih yang kemampuannya sudah teruji dalam berbagai macam misi baik di Eropa maupun Timur Tengah. Setidaknya apabila jadi dibeli, Eurofighter Typhoon tetap akan menjadi kekuatan udara yang cukup mumpuni bagi TNI AU dalam menjaga kedaulatan Indonesia selama 10-15 tahun kedepan.

Sekilas tentang pesawat ini, EF-2000 Eurofighter Typhoon merupakan pesawat tempur multiperan yang diproduksi oleh konsorium produsen pesawat terbang Eropa (BAE System, Airbus, dan Leonardo). Eurofighter Typhoon merupakan pesawat tempur bermesin ganda yang gesit karena memiliki canard dibagian depannya, dan sangat cocok untuk misi superiotas udara namun juga dapat berubah peran ditengah misi sesuai dengan kebutuhan di medan pertempuran.

Beberapa negara anggota NATO, seperti Jerman, Inggris, Italia dan Spanyol mengandalkan Typhoon sebagai pesawat tempur garis depan yang sering menjadi bagian dari Baltic Air Policing Mission. Para Typhoon anggota NATO ini sering kali “berduel” dengan pesawat tempur Sukhoi maupun Bomber Tupolev Rusia yang berusaha mendekati teritory negara anggota NATO tanpa izin.

Typhoon juga menjadi andalan AU Arab Saudi dalam kampanye militer mereka di Yaman dan Syria untuk misi serang darat presisi mereka disana. Untuk persenjataan, terdapat 13 hardpoint yang tersedia dan Typhoon dapat membawa segala jenis persenjataan NATO seperti Rudal AMRAAM, Taurus, Brimstone, JDAM, LITENING pod system, dan lainnya. Hingga saat ini ada sekitar 9 angkatan udara dipenjuru dunia yang sudah mengoperasikan Typhoon.

Prasta Obet 

Alumni Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Tinggal di Bandung

Foto: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *