Babak Baru Politik Jokowi

Oleh Andria Perangin-angin

Pasca membacakan nama susunan kabinetnya, ada dua hal yang menarik kita soroti dari Jokowi. Pertama penyusunan kabinet Jokowi-Ma’ruf kali ini sukses memberikan kejutan kepada publik karena munculnya nama-nama yang di luar dugaan. Kedua tentang karir Gibran, putra sulung Jokowi yang melompat ke politik dengan mendeklarasikan keinginannya untuk menjadi calon Walikota Solo.

Berbagai polemik mencuat ketika nama-nama kabinet dibacakan. Salah satu diantaranya adalah relawan Projo yang sempat merasa kecewa karena masuknya Prabowo dalam kabinet. Wajar mereka kecewa karena pada kampanye Pilpres beberapa waktu lalu, Projo berhadapan langsung dengan massa pendukung Prabowo. Walau demikian atas nama demokrasi Projo wajib menerima keputusan Jokowi selaku presiden yang sudah terpilih dan dilantik.

Melihat background dari komposisi kabinet Jokowi Jilid II, tampak nuansa kompromi yang cukup kentara. Komposisi ini terdiri dari utusan partai, TNI, Polri serta pengusaha. Berangkat dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa Jokowi sudah berhasil menyusun kabinet yang ideal dari sudut pandangnya namun ini tidak menjamin akankah kabinet ini bertahan dan langgeng sampai akhir periode. Pernyataan terakhir Jokowi patut kita perhatikan yakni akan mencopot para pembantunya jika tidak bekerja dengan sungguh-sunguh.

Dalam lima tahun ke depan, Jokowi tampak semakin percaya diri dibanding periode sebelumnya untuk menjalankan roda pemerintahan. Target utama yang ingin segera digapai adalah pembangunan Ibu Kota baru yang mensyaratkan dana besar serta rencana pengembangan BUMN. Posisi Menteri BUMN pun dipercayakan kepada mantan ketua Tim Kampanye Nasional Erick Thohir.

Melihat geliat partai pendukung yang kurang puas dengan susunan kabinet, sepertinya dalam waktu dekat akan dilakukan reshuffle. Tentu saja alasan yang akan dibangun adalah kinerja Menteri yang dianggap tidak maksimal dalam bekerja. Sama halnya pada periode yang lalu, salah satu pos kementerian yang paling sering mengalami gonta-ganti adalah Kementerian Maritim dengan didasarkan pada isu dwelling time.

Tidak tanggung-tanggung, pada priode lalu “trio macan” kabinet, Luhut, Rini dan Andi Wijayanto juga digeser secara halus. Andi langsung terdepak dari kebinet, Rini aman dan Luhut digeser dari KSP yang mempunyai kewenangan mengkordinasikan para menteri menjadi Menkopolhukam dan berakhir di Kementerian Maritim. Uniknya saat Luhut menjabat sebagai Menteri Maritim isu dwelling time pun hilang.

Lima tahun adalah pelajaran yang sangat berharga bagi seorang Jokowi untuk belajar situasi politik nasional dan menorehkan prestasi. Sekarang Jokowi punya cara sendiri untuk memimpin kabinet dan Indonesia lima tahun ke depan.

Kedua adalah majunya putranya sebagai bakal calon Walikota Solo. Bisa dibilang dengan bahasa yang kurang elegan ini adalah aji mumpung. Secara kasat mata memang tepat sepertinya memberikan izin kepada putra sulungnya untuk maju di tingkatan kota sebagai pembelajaran. Bisa dikatakan the next generation of Jokowi. Tentu hal ini tidak mudah karena jalur yang dipilih oleh Putra Jokowi adalah PDIP yang terkenal sebagai partai kader. Banyak kader PDIP yang potensial dan sudah menahun berjuang membesarkan PDIP masuk dalam perhitungan.

Kebesaran nama Jokowi memang memberikan pengaruh namun tidak menjadi nilai mutlak. Sebagai partai yang besar dengan pola kaderisasi, ada baiknya Gibran Rakabuming bersabar mengikuti pola kaderisasi yang ada di PDIP. Artinya Gibran mempersiapkan diri menjadi the next generation of PDIP bukan sekedar the next generation of Jokowi. Mengingat partai harus beregenerasi dan melahirkan kaum intelektual muda.

Inilah babak baru dunia politik Jokowi, di satu sisi sudah mulai percaya diri untuk memimpin politik nasional dan di sisi lain dia mempersiapkan putranya di dunia politik. Terlalu naif jika kita mengatakan bahwa ini hanya keputusan Gibran semata, sebagian besar keputusan ini karena izin dan restu Jokowi selaku orang tua. Ideal sepertinya jika anak sulungnya belajar dari tingkatan wilayah kota, tapi sebenarnya yang sedang dilakukan adalah feodalistik penguasa menuju oligarkhi.

Jika memang ingin mengenal dunia politik maka belajar dari tingkatan partai yang paling kecil, turun ke bawah (rakyat) untuk lebih mengenal kaum “marhaen”. Kalau memang sudah jalannya Gibran akan menemukan pola dan karakter politiknya sendiri.

Andria Perangin-angin
Pegiat Agraria dan Pebisnis Pertanian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *