Cegat Gubernur NTT Ke Alor , Masyarakat minta Tunaikan Janji

Alor Kartakita-Organisasi Pemuda Lintas Alor Barat Laut (PELITA), bersama dengan Masyarakat Alor Barat Laut (ABAL) Kabupaten Alor,  melakukan Aksi damai menyambut kunjungan kerja Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat,S.H.,M.Kn ke Kabupaten Alor dengan Agenda kunjungan kerja  membuka festival Al-Qur’an Tua di Alor Besar Kabupaten Alor.

Aksi damai yang dilakukan Pemuda dan masyarakat Abal ini, bertujuan untuk menagih Janji Gubernur NTT semasa kampanye di Kabupaten Alor, yakni melakukan perbaikan  Jalan Kalabahi-Kokar dan Jalan watatuku- Mataraben yang berstatus jalan Provinsi.

Aksi Damai dilakukan dibawah pimpinan Kordinator Aksi, Damanhury Jab. Dalam Aksi ini, Masa Aksi menyampaikan kekecewaan mereka kepada Pemerintah provinsi karena tak kunjung melakukan perbaikan jalan yang berstatus jalan provinsi, padahal di ketahui kondisi jalan sudah berlubang dan mengalami kerusakan di banyak titik, sehingga sangat rawan untuk dilalui karena dapat mengakibatkan kecelakaan bagi pengguna jalan.

Opa Syarifudin Tonu salah satu peserta Aksi yang berkesempatan menyampaikan Aspirasinya, mengungkapkan bahwa, Massa Aksi rela berdiri sejak pagi dan menunggu gubernur selama berjam-jam, guna memperjuangkan kepentingan Masyarakat Kabupaten Alor pada umumnya, dan khususnya Masyarakat Kecamatan Alor Barat laut (ABAL), ia juga mengatakan bahwa sampai saat ini data menunjukan bahwa jalan Abal yang rusak masih 66,60% atau sekitar 23 Kilometer. Opa juga mengungkapkan kekecewaannya dengan menyebutkan bahwa tanah merah dan tanah putih yang terlihat pada jalan yang rusak, merupakan hadiah yang di berikan oleh Pemerintah Provinsi setelah kemarin dimenangkan oleh Masyarakat Alor dalam Pemilihan Kepala Daerah Gubernur NTT. Opa mengungkapkan bahwa pengabaian terhadap kerusakan jalan yang berstatus jalan provinsi di kabupaten Alor dirasakan masa aksi sebagai penghinaan dan penghianatan Gubernur NTT terhadap Masyarakat Alor dan terhadapa janjinya sendiri.

“Masa Aksi berdiri sejak pagi dan rela menunggu selama berjam- jam, dan akan terus menunggu disini sampai kami bisa bertemu dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kerena ini semua kami lakukan demi kepentingan masyarakat Kabupaten Alor secara umum dan khususnya Masyarakat Kecamatan Alor Barat Laut. Harus kita ketahui bahwa berdasarkan data Provinsi, kerusakan jalan di Alor Barat Laut 66,60% atau sekitar 23 Kilo meter, Pemerintah Provinsi sudah memberikan hasil kepada kita, hadiah dari pilgub kemarin berupa tanah putih dan tanah merah, Saya ulangi sekali lagi bahwa hadiah dari masyarakat Alor memenangkan Viktor Bungtilu Laiskodat pada Pilgub kemarin, berupa tanah putih dan tanah merah, ini merupakan Penghinaan dan penghianatan kepada Masyarakat Alor dan Kepada janjinya sendiri”. Seru Opa Syarifudin Tonu meneriakan aspirasinya dengan berapi- api.

Aksi damai Pelita dan Masyarakat Abal dilakukan dengan jumlah massa aksi sekitar 70 orang yang berdiri memenuhi ruas jalan menunggu kedatangan Gubernur Nusa Tenggara Timur, namun massa aksi tetap memberikan akses jalan kepada pengguna jalan yang lain, karena tujuannya hanya bertemu dan menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur. Aksi Damai ini dilakukan dengan pengawalan ketat dari pihak Kepolisian Kabupaten Alor.

Massa Aksi juga membaca pernyataan sikap yang dibuat oleh organisasi Pemuda Lintas Abal yang berisi beberapa poin tuntutan Massa Aksi, poin- poin tersebut yakni :

  1. Massa Aksi mendesak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera memasukan jalan kalabahi – kokar yang berstatus jalan provinsi ke skala prioritas pembangunan Tahun 2020
  2. Mendesak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera menganggarkan Dana untuk pembangunan jalan Kalabahi- Kokar yang berstatus jalan Provinsi, di Tahun 2020.
  3. Mendesak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera melaksanakan Pembangunan jalan Kalabahi – Kokar yang berstatus Jalan Provinsi, di Tahun 2020.

Keadaan sempat memanas, karena Gubernur Nusa Tenggara Timur yang tidak mau turun dari mobil dan tidak mengindahkan tuntutan massa aksi, massa aksi sempat menyampaikan kekecewaan nya, bahkan ada peserta aksi yang menyebut Gubernur NTT sebagai Penghianat karena tidak menghargai dan mengindahkan tuntutan yang menurutnya, ditulis berdasarkan hasil Advokasi yang dilakukan selama sebulan penuh terhadap kondisi jalan Kalabahi-Kokar.

“Jadi ini isi tuntutan kita tidak dihargai dan tidak diindahkan oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, jadi sekarang kita melihat bahwa Gubernur merupakan seorang penghianat karena tidak mengindahkan tuntutan yang di buat oleh pemuda, padahal tuntutan ini merupakan aspirasi yang kami buat setelah melakukan Advokasi selama sebulan mengenai kondisi dan pengukuran jalan Kalabahi – Kokar yang rusak dan membahayakan keselamatan masyarakat”. Ungkap seorang Peserta Aksi, meluapkan kekecewaannya terhadap Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Massa Aksi akhirnya dibubarkan secara paksa oleh aparat kepolisian kabupaten Alor setelah Aksi tak kunjung menemui titik temu, karena perbedaan keinginan antara massa aksi yang terus meminta Gubernur keluar dari mobil karena ingin berdialog dengan Gubernur,  dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, yang tak ingin keluar dari mobil dan ingin terus melanjutkan perjalanannya ke tempat Festival Al-Qur’an Tua di Alor Besar.

Massa Aksi pun akhirnya dapat di bubarkan dan pulang dengan kekecewaan karena Tuntutannya tak diindahkan Gubernur NTT, dan  tak berhasil berdialog dengan Gubernur, selanjutnya Gubernur kembali melanjutkan perjalanannya guna membuka dan mengikuti festival Al-Qur’an Tua di Alor Besar. Kamis (30/7/2020). (Gitur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *