Digugat Adik Ipar Terkait Harta Warisan, Enny Anggrek Nyatakan Siap Hadapi Proses Hukum

Alor Kartakita- Enny Anggrek, SH yang kini juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Alor diketahui tengah diperhadapkan dengan gugatan yang dilayangkan oleh Adik Iparnya dan keluarga dari Almarhum suaminya. Adapun penggugat yang mendaftarkan gugatannya ke pengadilan kalabahi bernama Aditya Suhartoyo Jo dan Theresia Yo Carvalo.

 

Gugatan Kepada Enny Anggrek di daftarkan dalam dua perkara, yang pertama dengan nomor perkara : 24/Pdt.G/2020/PN Klb dengan klasifikasi Perkara Objek sengketa tanah dan di daftarkan pada Jumat 23 Oktober 2020 Atas nama Theresia Yo Carvalo dan Aditya Suharto Jo sebagai penggugat serta Enny Anggrek sebagai tergugat.

 

Gugatan yang kedua didaftarkan dengan Nomor Perkara : 25/Pdt.G/2020/PN Klb dengan klasifikasi Perkara Objek sengketa tanah dan di daftarkan pada senin 2 November 2020 Atas nama Theresia Yo Carvalo dan Aditya Suharto Jo sebagai penggugat serta Enny Anggrek sebagai tergugat dan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Alor sebagai Turut Tergugat.

 

Aditya Suharto, adik Kandung dari Alm Suami Enny Anggrek menyatakan bahwa gugatan yang dilayangkan terhadap Enny Anggrek dikarenakan menurutnya dan keluarganya ada upaya yang dilakukan Enny Anggrek untuk menguasai tanah warisan peninggalan Alm. Kedua orang tuanya secara sepihak dan tanpa komunikasi serta kordinasi dengan ia dan saudara/i kandungnya sebagai ahli waris yang sah. Adapun lokasi tanah yang menjadi objek sengketa menurut Aditia antara lain Toko Pantai Laut di pelabuhan dan ada satu yang berlokasi di Jembatan Hitam. Aditya menyampaikan bahwa upaya menguasai yang dilakukan Enny Anggrek selaku Ketua DPRD Alor  yaitu bahwa terhadap toko pantai laut yang dipelabuhan itu dilakukan dengan cara membuat surat hibah dari ibu kandungnya, Almarhumah Enggelina Tan kepada kakak kandung nya Soharto yang merupakan suami dari Enny Anggrek tanpa sepengetahuan Ahli waris yang lain. Hal ini diketahui Aditya  yang selama ini menetap di luar Kabupaten Alor datang  berkunjung ke Alor pada bulan Agustus lalu , namun tiba – tiba ia dihubungi oleh Enny Anggrek via telpon dan diancam agar tidak boleh mendatangi kedua lokasi yang kini menjadi objek sengketa tersebut, sehingga Aditya merasa heran dan bertanya – tanya dengan sikap kakak iparnya karena merasa dan meyakini bahwa kedua rumah tersebut merupakan aset milik orang tuanya yang bahkan sudah ada sebelum Enny Anggrek menikah dengan kakak lelakinya ia kemudian mencari tahu dan menemukan fakta bahwa terhadap toko pantai laut yang di pelabuhan sudah diganti kepemilikannya dengan hibah dari Almarhumah Ibunya kepada Almarhum saudara Laki – lakinya pada Tahun 2010 tanpa sepengetahuan ia dan Ahli waris lainnya.

 

“Saya gugat karena saat ini, Enny Anggrek sudah menguasai Kedua Objek sengketa yang merupakan milik orang tua saya yaitu toko pantai laut di pelabuhan dan toko di jembatan hitam, sebelumnya toko pantai laut yang di pelabuhan itu milik mama saya atas nama Enggelina Tan yang pada tahun 1996 resmi menjadi warga negara indonesia sehingga sertifikat nya ditingkatkan menjadi hak milik dan tanah itu menjadi atas nama lalu pada tahun 2010 secara diam – diam mereka rubah dari atas nama mama menjadi atas nama kakak laki- laki saya suharto yang merupakan suami dari Enny Anggrek tanpa sepengetahuan saya dan saudara – saudara saya yang lain karena kami semua tinggal di luar Alor, tetapi sebagai anak kandung tentu harus sepengatahuan kami sebagai ahli waris yang sah, lalu pada bulan Agustus itu saya yang pertama datang dengan niat berkunjung saja, tiba – tiba saya dihubungi via telpon dan diancam agar tidak boleh datang dan menempati kedua rumah tersebut, sehingga saya merasa aneh karena itu dua- duanya punya orang tua saya, dan dia kan asalnya, lahirnya dari niki-niki datang ke Alor tahun 1988 dan menikah dengan saudara saya, kedua aset itu sudah ad bahkan sebelum dia datang dan kenal kakak saya”. Tutur Aditya selaku Adik Ipar Enny Anggrek.

 

Selanjutnya, Aditya juga menyampaikan bahwa bahkan tindakan yanng membuatnya lebih terkejut lagi yaitu tindakan Enny Anggrek yang bisa mengubah nama atas hak milik sertifikat toko pantai laut dijembatan hitam langsung menjadi kepemilikan Enny Anggrek. Aditya merasa hal itu seharusnya tidak terjadi alasannya karena Tanah itu milik ayahnya yang dibeli namun karena status ayahnya yang masih WNA sehingga tidak dapat memiliki hak milik sehingga ayahnya membeli dengan menggunakan nama dari suami adik kandung ayahnya yang merupakan WNI, tapi kemudian oleh Enny Anggrek tanpa konfirmasi dan pembicaraan terlebih dahulu bisa langsung diubah kepemilikannya beralih dari pemilik pertama Yosep Kandras yang adalah Adik Ipar ayah nya menjadi nama Enny Anggrek. Aditia Juga menambahkan bahwa yang paling ia sesalkan karena sekarang semua sertifikat itu berada dibank karena sedang dijadikan jaminan.

 

“Yang lebih parah, Toko yang di jembatan hitam itu, itu kan bapa beli nama pake nama Yosep Kandras, itu bapak saya punya adik kandung punya suami, waktu itu kan bapa beli pas bapa dengan mama status masih WNA jadi tidak bisa punya Hak milik, nah karena Bapa punya ipar WNI dan bisa punya hak milik akhirnya bapak beli pake dia punya ipar punya nama, tapi tiba- tiba kemudian itu sertifikat bisa di balik nama langsung ke Enny Anggrek tanpa ada konfirmasi dan pembicaraan dengan kami ahli waris dan keluarga sebelumnya, dan yang paling parah sekarang itu sertifikat semua sudah digadai dan dijadikan jaminan di bank”. Ujar Aditya Saat memberikan keterangan dalam wawancara Selasa (17/11/2020).

 

Diketahui untuk kedua perkara ini sendiri, pada perkara pertama dengan nomor perkara 24/Pdt.G/2020/PN Klb telah dilakukan sidang pertama dengan agenda mediasi pada Rabu 04 November 2020 dengan Hakim Ratri Pramudita, S.H. sebagai Mediator dan telah didapatkan hasil mediasi pada Rabu 11 November 2020 dengan hasil Mediasi tidak berhasil sidang selanjutnya akan dilakukan pada Selasa 17 November 2020 dengan Agenda Lapran Mediator dan selanjutnya penetapan kembali hari sidang. Sedangkan untuk perkara kedua dengan Nomor perkara : 25/Pdt.G/2020/PN Klb telah dilakukan sidang pertama pada Rabu, 11 November 2020 dengan Agenda sidang pertama namun ditunda dengan Alasan turut tergugat tidak hadir, dan sidang selanjutnya akan dilaksanakan pada Selasa, 17 November 2020 dengan Agenda Pemanggilan Turut Tergugat.

 

Enny Anggrek yang dikonfirmasi dan diminta hak jawabnya terkait gugatan yang ditujukan kepada dirinya tersebut, menyampaikan statement nya via telepon pada wartawan Selasa (17/11/2020) pagi. Enny menyatakan bahwa ia tidak perduli dengan semua perbuatan yang seolah menyerang dirinya karena ia meyakini bahwa ia bisa menyelesaikan dan membuktikan kebenarannya, ia menyatakan bahwa keluarga suaminya sudah bangkrut sehingga datang ke Alor, sedangkan ia sendiri berjuang untuk menjaga usaha suaminya, menyekolahkan anak – anak sampai pada bangku perkuliahan dan semua ia lakukan dengan tulus, sehingga ia tak ingin menanggapi hal – hal semacam itu. Enny juga menambahkan bahwa silahkan agar proses hukum nya tetap berjalan dan ia telah mempercayakan urusan tersebut kepada pengacaranya yakni Elisabeth Sulastri Sujono S.H. untuk bertindak sebagai Kuasa hukum nya dalam perkara tersebut.

 

“Saya tidak perduli ya, mau serang saya dengan berbagai cara pun saya bisa selesaikan, terserah kalian mau demo, Mosi tidak percaya atau sekarang bilang ada gugatan dan sebagainya, silahkan lakukan karena jika sayamerasa saya benar pasti saya bisa selesaikan dan membuktikan kebenaran saya. Mereka itu sudah bangkrut makanya datang ke alor ini , saya ni sudah berusaha sendiri, saya juga kasih sekolah anak – anak sampai kuliah, kurang baik apalagi, semua saya lakukan dengan ketulusan, itu semua atas nama Almarhum suami saya, sekarang sudah meninggal, kenapa tidak mau permasalahkan saat masih hidup? Sekarang orangnya sudah didalam kubur lalu mau datang permasalahkan apa sama saya? Silahkan saja prosesnya berjalan saya tetap menghormati dan saya pakai pengacara jadi biar pengacara saya yang akan urus semua”. Tutur Enny Anggrek kepada wartawan.

 

Mengakhiri keterangannya Enny Anggrek juga menegaskan bahwa ia tidak akan menghadiri semua proses persidangan terkait gugatan adik iparnya tersebut, karena sudah mempercayakan dan menyerahkan pada pengacaranya. Enny juga menambahkan bahwa jika tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya nantinya tidak terbukti di persidangan maka ia akan melapor dan menuntut kembali pihak penggugat karena ia merasa telah dirugikan dan dicemarkan nama baiknya.

“jadi untuk semua proses persidangan itu nanti pengacara yang urus, dan nanti kalau sudah jelas saya tidak salah, tidak terbukti tentu saya akan tuntut dan lapor karena sudah merugikan saya dan nama baik saya dicemarkan”. Ujar Enny Anggrek, Politisi Wanita yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Alor tersebut Kepada Jurnalis Kartakita Selasa (17/11/2020). (Gitur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *