Inilah Alasan Mengapa Penculikan Rengasdengklok Harus Terjadi

Karta Kita – Peristiwa penculikan terhadap Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta yang dilakukan oleh kelompok pemuda yang dikenal dengan perkumpulan Menteng 31 pada 16 Agustus 1945 tentu bukan tanpa alasan.

Penculikan ini jamak disebut sebagai peristiwa rengasdengklok karena memang Bung Karno dan Bung Hatta diculik dan dibawa oleh para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh ke Rengasdengklok, Karawang. Pada saat penculikan terjadi putra dan istri Bung Karno yaitu Guntur dan Fatmawati juga ikut dibawa bersama dengan Soekarno dan Muhammad Hatta.

Barangkali kebanyakan di antara kita sudah tahu bahwa penculikan terjadi dengan maksud memaksa Bung Karno dan Hatta mempercepat proklamasi kemerdekaan karena kelompok tua termasuk Bung Karno dan Hatta percaya bahwa Jepang akan menepati janjinya untuk menyerahkan kemerdekaan.

Namun sebelum sampai ke sana terdapat kisah yang menjadi dalil kelompok tua mempercayai tawaran Jepang dan yang belakangan memicu aksi penculikan di Rengasdengklok.

Bung Karno dan Hatta beserta tokoh-tokoh tua telah bersepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang merupakan organisasi bentukan Jepang. Hal inilah yang tidak disepakati oleh kelompok muda.

Sebelumnya harus diingat suatu kejadian pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom yang menghancurkan Hiroshima. Tidak lama dari itu pada 9 Agustus 1945 bom atom Amerika Serikat juga berhasil menghancurkan Nagasaki.

Kemudian pada tanggal 12 Agustus 1945, Marsekal Terauchi bertemu dengan tiga tokoh tua yaitu Bung Karno, Bung Hatta dan Radjiman. Dalam pertemuan ini Terauchi menyampaikan bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945.

Marsekal Terauchi merupakan tentara Jepang dengan karir militer yang sangat fantastis di eranya. Karirnya terus mengalami peningkatan dan selalu menduduki posisi penting dalam setiap pertempuran Jepang. Gelar terakhirnya sebagai Marsekal Medan setingkat lebih tinggi di atas Jenderal.

Pada saat mengucapkan janji Jepang ini, Terauchi memang sedang berada di Dalat, Vietnam di mana pada saat itu Sekutu telah mengancam Filipina yang sebelumnya dikuasai oleh Jepang. Ancaman Sekutulah yang memaksa Terauchi mundur ke Saigon yang sekarang dikenal dengan negara Vietnam.

Kemudian tanggal 13 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta dan Radjiman kembali ke Indonesia dengan pesawat fighter bomber bermotor ganda yang mereka tumpangi. Pada saat itu, dokter pribadi Bung Karno, dr. Soeharto juga turut serta dalam rombongan.

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang secara resmi menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Peristiwa penandatanganan ini dilakukan di kapal tempur kelas lowa USS Missouri (BB-63).

Kabar inilah yang membuat kelompok muda semakin bersemangat untuk memaksa Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, kelompok pemuda melakukan pertemuan untuk berunding mengenai rencana proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Pertemuan ini dilakukan di lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta. Para pemuda sepakat untuk tidak mempercayai janji Jepang untuk menyerahkan kemerdekaan kepada Indonesia. Hasil perundingan disampaikan langsung kepada Ir. Soekarno pada tanggal yang sama di malam hari namun menuai penolakan dari Bung Karno yang merupakan ketua PPKI.

PPKI merupakan pengganti dari BPUPKI karena fungsi dan kerja dari BPUPKI telah selesai. BPUPKI resmi dibentuk pada tanggal 29 April 1945 bersamaan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito. Sementara PPKI dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945 dengan beranggotakan 21 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno.

Tugas PPKI adalah mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, mengesahkan undang-undang dasar negara, memilih Presiden dan Wakil Presiden dan membentuk komite nasional yang membantu tugas presiden sebelum MPR dan DPR.

Kembali lagi kepada hasil perundingan pemuda yang ditolak mentah-mentah oleh Bung Karno karena takut terjadi pertumpahan darah pada saat melakukan proklamasi kemerdekaan. Pada tanggal 16 Agustus 1945 penculikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok pun menjadi satu-satunya pilihan para pemuda.

Para pemuda melakukan penculikan pada pukul 03.00 WIB dengan cara mengelabuhi Soekarno dan Hatta dengan mengatakan bahwa situasi Jakarta sedang tidak kondusif karena kelompok pemuda sedang melakukan pemberontakan. Kepada Hatta, salah seorang kelompok pemuda mengatakan bahwa terdapat puluhan ribu pemuda bergerak ingin melucuti Jepang.

Pemuda mengatakan bahwa daripada dianggap sebagai provokator akan lebih baik Bung Karno dan Bung Hatta bersembunyi. Hal inilah yang membuat proses penculikan Bung Karno dan Bung Hatta bisa berjalan mulus.

Pada pagi harinya di tanggal 16 Agustus 1945 seharusnya PPKI mengadakan rapat namun dua pimpinan mereka tak kunjung datang. Sempat ada anggapan Jepang menyembunyikan kedua tokoh ini namun ternyata Jepang pun tak mengetahui keberadaan mereka.

Ahmad Subardjo yang merupakan anggota PPKI berupaya mencari kedua pimpinan PPKI tersebut hingga akhrnya menemukannya di Rengasdengklok. Kabar tentang Jepang yang menyerahkan diri kepada Sekutu juga disampaikan kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Atas kabar ini akhirnya keduanya bersedia memproklamasikan kemerdekaan namun harus dilakukan di Jakarta.

Kisah inilah yang melatarbelakangi sehingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun dapat direalisasikan pada pukul 11.30 WIB tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Ir. Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. (jfs/kartakita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *