Mempersiapkan Generasi Unggul Mulai Dari Pengentasan Kemiskinan

Karta Kita – Salah satu tugas pemerintah yang tak kalah penting dibandingkan dengan tugas-tugas penting lainnya adalah bagaimana mempersiapkan generasi baru yang mumpuni untuk melanjutkan estafet bangsa Indonesia ke depan. Dalam hal ini pemerintah dituntut memperhatikan kesejahteraan generasi baru sejak dalam kandungan sampai dengan dewasa.

Kesejahteraan generasi baru Indonesia bukan tanggung jawab orang tua mereka semata karena bagaimanapun kesejahteraan mereka akan berdampak pada bangsa dan negara di masa yang akan datang. Kegagalan pemerintah dalam melindungi generasi barunya berakibat pada masalah-masalah sosial yang nantinya justru memperberat tugas pemerintah.

Dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi menyampaikan pentingnya pengentasan stunting, gizi buruk serta menjaga keselamatan ibu hamil saat melahirkan. Hal ini mengingat prioritas pemerintahan di periode kedua adalah membangun sumber daya manusia yang unggul. Dengan memperhatikan keselamatan ibu dan bayi pada masa kehamilan serta tumbuh kembang bayi pada 2 tahun pertama pemerintah telah mempersiapkan generasi baru yang unggul di masa yang akan datang.

Masalah stunting dapat diatasi dengan memberikan ASI kepada bayi sampai usia 2 tahun. Di samping itu, memberikan nutrisi yang tepat misalnya dengan menjaga keseimbangan asupan protein hewani dan nabati serta memastikan adanya kandungan zat besi dalam makanan sehari-hari pada usia 7-23 bulan.

Selain itu, kebutuhan akan air bersih juga tidak kalah penting. Tidak hanya itu, menjaga lingkungan tempat tinggal anak agar tetap bersih dan aman menjadi salah satu fokus perhatian. Kemudian yang tidak kalah penting adalah menjaga jam tidur anak agar tidak kurang dari 8 jam sehari untuk memperoleh hormon pertumbuhan yang baik.

Nasib Bayi Pada Keluarga Prasejahtera

Celakanya tidak sedikit bayi yang lahir pada keluarga prasejahtera. Dengan aktivitas orang tua yang padat karena harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sulit rasanya memastikan kesejahteraan anak baik secara materil maupun non materil. Seringkali padatnya jadwal bekerja orang tua termasuk ibu berakibat pada terganggunya jam tidur anak.

Tidak jarang pula bayi yang tinggal di kawasan kumuh dan tidak terjamin kebersihan dan keamanannya. Misalnya bayi yang lahir di pemukiman sekitar tempat pembuangan sampah. Sulit memaksa keluarga mereka keluar dari pemukiman tersebut karena sumber rejeki keluarganya adalah hasil mengumpulkan dan mengelola sampah.

Di tambah lagi masih ada daerah-daerah terdepan, terluar dan tertinggal yang kesulitan mendapatkan air bersih tentu saja akan berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak-anak yang tinggal di daerah tersebut. Sementara permasalahan air bersih belum bisa tuntas kita selesaikan sampai hari ini.

Bahkan tidak hanya di daerah terdepan, terluar dan tertinggal saja, di ibu kota negara sekalipun masih banyak keluarga miskin yang sulit mengakses air bersih untuk dikonsumsi sehari-hari. Tidak tersalurnya air bersih ke pemukiman warga miskin ini mengharuskan mereka untuk membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Dari sini kita tersadarkan bahwa permasalahan stunting, gizi buruk dan keselamatan ibu hamil tidak saja sekedar masalah posyandu dan imunisasi. Bukan juga sekedar soal pemberian ASI Ekslusif atau makanan pendamping ASI yang disediakan oleh Puskesmas semata.

Sekelumit masalah menghantui utamanya masalah kebutuhan dasar keluarga yang belum tuntas terpenuhi. Sementara seyogyanya kebutuhan dasar pangan, sandang dan papan keluarga ini bisa diperbaiki terlebih dahulu maka secara tidak langsung masalah stunting, gizi buruk dan tumbuh kembang lebih mudah diatasi.

Pasalnya tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya sehat dengan tumbuh kembang dan intelektual yang baik. Namun kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar akan mempengaruhi perhatian orang tua terhadap anak-anaknya. Barangkali inilah yang menjadi alasan mengapa stunting masih sulit terselesaikan sementara anggaran untuk mengatasi masalah ini sudah ditingkatkan.

Persoalan mendasarnya terletak pada bagaimana intervensi pemerintah terhadap keluarga itu sendiri. Apakah pemerintah sudah memberdayakan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu lantas selanjutnya memberikan edukasi agar keluarga tersebut memperhatikan nutrisi dan kesehatan anak-anak mereka?

Pemerintah memiliki tugas yang tidak mudah salah satunya harus mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak atau setidaknya memacu semangat berwirausaha demi meningkatkan pendapatan keluarga. Pemerintah juga perlu memperhatikan nasib warga negaranya yang tinggal di kawasan kumuh dan keluarga pemulung yang tinggal di pemukiman dekat dengan tempat pembuangan sampah. Begitu juga dengan keluarga miskin maupun mereka yang tinggal di daerah terdepan, terluar dan tertinggal yang kesulitan dalam mengakses air bersih.

Tidak hanya itu, di banyak daerah terdapat warga negara yang mengalami penggusuran namun tidak disediakan alternatif tempat tinggal sebagai kompensasi. Tentu saja persoalan ini berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak-anak yang tidak mengerti sama sekali tentang pokok persoalan yang dihadapi oleh orang tuanya.

Mampukah pemerintah menjamin kesejahteraan anak-anak yang mengalami nasib seperti itu? Apalagi jumlah anak-anak kurang beruntung seperti yang dijelaskan di atas tidaklah sedikit. Namun bila tidak mampu sulit rasanya berharap semua generasi penerus kita mumpuni melanjutkan tongkat estafet pembangunan bangsa dan negara ini di masa yang akan datang.

Harus juga disadari bahwa tugas berat mempersiapkan generasi penerus unggul ini akan dibebankan kepada multi sektor kementerian. Sehingga kesimpulannya masalah stunting, gizi buruk dan keselamatan ibu hamil dan bayinya tidak hanya terletak pada kementerian kesehatan saja melainkan pada multi kementerian yang membutuhkan peranan Presiden dan Wakil Presiden untuk mengkoordinasikannya. (jfs/kartakita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *