Nasib Pesawat Ekonomi Indonesia

Karta Kita — Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan hasil penelitian Haver Analitics yang menunjukkan perlambatan yang signifikan dari aktivitas manufaktur di Indonesia. Penurunan tersebut hampir 10 persen jika membandingkan data di bulan Februari hingga Maret. Dan melihat situasi pandemik Covid-19 yang cukup pelik perlu koordinasi dan kerjasama dengan seluruh negara dalam penanganannya.

“Beberapa negara mengeluarkan paket kebijakan ‘extraordinary’ yang merupakan kombinasi antara fiskal, moneter dan relaksasi di sektor keuangan,” kata Sri Mulyani.

“Sektor penerbangan paling terdampak di AS. Kita lihat disana dari pihak maskapai langsung mengajukan permintaan dana hibah, pinjaman lunak dan juga keringanan pajak kepada pemerintah federal,” tambahnya lagi.

Ia juga mengingatkan kembali akan prediksi Badan Inteligen Negara mengenai puncak pandemi di Indonesia yaitu di bulan Mei.

“Data yang disampaikan oleh BIN puncak pandemi Covid-19 di Indonesia diperkirakan terjadi pada bulan Mei 2020 dengan jumlah estimasi terpapar 95 ribu” kata Sri.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dinilai akan beresiko mengalami penurunan yang dalam menjadi 2,3 persen pada skenario berat dan berlanjut 0,4 persen pada skenario sangat berat. Ancaman untuk stabilitas keuangan yakni timbulnya votalitas pasar saham, surat berharga, dan juga depresiasi terhadap rupiah.

Pemerintah akan fokus memberikan stimulus untuk manufaktur yang terdampak parah akibat menurunnya proses distribusi bahan baku dari Republik Rakyat Tiongkok. Di akhir Menteri Sri juga menyampaikan bahwa perbankan dan perubahan pembiayaan berpotensi mengalami persoalan likuiditas dan insolvency. Nilai rupiah juga akan mengalami depresiasi begitu juga pasar saham akan mengalami votalitas, dan capital flight. (afp/kartakita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *