Siapa Berani Menolak Gibran Rakabuming?

Karta Kita – Keinginan Gibran Rakabuming Raka untuk maju dalam Pemilihan Walikota Solo pada tahun 2020 sempat membuat kaget banyak kalangan mengingat selama ini putra sulung Presiden Jokowi ini seolah tak berminat terjun ke dunia politik. Sejak Desember 2010 Gibran dikenal sebagai seorang pengusaha katering yang akrab dikenal dengan nama Chilli Pari.

Selama membangun usaha kateringnya, Gibran menghindari pesanan katering dari pemerintah Kota Solo sebagai bentuk komitmen untuk menghindari pandangan negatif dari berbagai pihak. Setelah sukses bernisnis katering, Gibran memperluas bisnis kulinernya dengan membangun usaha martabak bernama Markobar.

Pada awal-awal terpilihnya Jokowi sebagai Presiden, Gibran sangat jarang muncul di media kendati banyak yang penasaran dengan kepribadian lulusan University of Technology Insearch, Sydney Australia ini. Tak heran kalau sekarang banyak yang terkejut dengan keputusannya maju dalam kontestasi politik di kota yang menjadi awal karir politik ayahnya.

Memang nama Gibran sempat muncul menjadi salah satu yang dijagokan dalam survey calon walikota untuk berkontestasi pada Pilkada Kota Solo tahun 2020 mendatang. Survey ini diselenggarakan oleh Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Menariknya niat ini seolah tak berjalan mulus karena DPC PDIP Kota Solo sudah punya kandidat yang dijagokan untuk bertarung pada pilkada mendatang. Pasangan tersebut adalah Achmad Purnomo yang merupakan wakil walikota Solo saat ini bersama-sama dengan Teguh Prakoso yang merupakan Ketua DPRD Solo periode 2014-2019.

Sebelumnya Gibran yang menikahi mantan putri Solo pada 11 Juni 2015 ini telah menemui Ketua DPC PDIP Solo yang merupakan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Pertemuan ini berlangsung pada 18 September 2019 di rumah dinas Walikota Solo yang sempat mendampingi Jokowi sebagai wakil walikota Solo sejak tahun 2005 sampai dengan 2012.

Bahkan berdasarkan pengakuan Gibran, ia juga telah melakukan pertemuan dengan Bambang Wuryanto yang akrab disapa Bambang Pacul selaku Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Pada tanggal 24 Oktober lalu, Gibran mengunjungi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri di Teuku Umar, Menteng, Jakarta.

Pertemuan ini mengundang banyak asumsi dan pendapat. Seolah pertemuan Gibran dan Ketua Umum PDIP ini merupakan strategi putra sulung Jokowi ini untuk mendapatkan restu maju pada pilkada Solo tahun depan. Bagaimanapun keputusan Dewan Pimpinan Pusat PDIP akan sangat menentukan siapa yang akan memperoleh tiket maju dalam pertarungan politik di Kota Solo.

Gibran pun membantah kecurigaan dan asumsi yang bergerak liar di media. Menurutnya pertemuan itu dalam rangka kursus mengenai sejarah PDIP dan ideologi Ir. Soekarno sebagai tokoh penting dan panutan pada partai berlambang banteng itu.

Sebagaimana telah dikabarkan dalam berbagai media, Gibran resmi menjadi kader PDI Perjuangan pada September lalu dan telah menerima Kartu Tanda Anggota. Tentu saja kursus yang diberikan oleh sang Ketua Umum bisa berkaitan dengan baru bergabungnya Gibran menjadi kader PDIP.

Apapun tujuan pertemuan tersebut setidaknya hal tersebut berhasil menarik perhatian banyak kalangan dan menciptakan rasa penasaran bagaimana ujung penentuan calon walikota Solo dari partai nasionalis ini. Harus diakui bahwa keputusan akhir DPP PDIP akan memberikan penilaian tersendiri bagi para kader PDIP, simpatisan maupun publik secara umum.

Setidaknya ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Andai Gibran diberikan tiket maju dalam Pilwalkot Solo sementara kandidat yang diusung oleh DPC PDIP tidak menerima keputusan tersebut tentu saja akan memunculkan polemik baru di internal partai.

Sementara, jika DPP PDIP mengikuti suara DPC untuk mencalonkan pasangan Ahmad Purnomo dan Teguh Prakoso dampaknya akan sangat besar terhadap kepercayaan publik bahwa Presiden Jokowi memang tidak pernah berusaha memberikan pengaruhnya untuk memunculkan nama putra-putrinya dalam kancah politik. Tidak ada niatan untuk membangun dinasti politik sebagaimana dipikirkan oleh banyak orang.

Bukan berarti ketika Gibran mendapatkan restu untuk maju sebagai calon walikota Solo dari PDI Perjuangan sudah pasti didasarkan pada pengaruh Presiden Jokowi. Respon publik akan bergantung pada alasan yang diberikan DPP PDIP apalagi proses ini sudah sempat menjadi konsumsi publik. Mau tidak mau apapun hasil keputusannya, publik akan memberikan penilaiannya.

Harus juga diingat bahwa publik cukup sensitif akan isu politik dinasti. Meskipun secara rasional, politik dinasti sah-sah saja mengingat tidak ada larangan untuk hal itu dan selama keluarga penguasa yang ingin terjun ke dunia politik tersebut adalah sosok yang kapabel dan berintegritas.

Terakhir, Gibran adalah sosok yang populer sehingga tidak sulit baginya untuk meraup suara demi kemenangan di Pilwalkot Solo. Tentu saja, sebuah kerugian bila PDIP menolak keinginan Gibran. Apalagi bila partai lain meminangnya atau muncul dorongan untuk terjun lewat jalur independen. (jfs/kartakita)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *