5 July 2022

Siberkreasi Purbalingga Ulas Relasi Orang tua dan Anak di Era Digital

Purbalingga, Karta Kita — Kemenkominfo dan Siberkreasi Kabupaten Purbalingga kembali menyelengggarakan Webinar Literasi Digital dengan tajuk, “Cara Mendidik Anak yang Sehat dan Cerdas di Era Digital.”

Hal ini didasarkan pada latar belakang di mana ada banyak orang tua mengeluh kerepotan saat membimbing anak-anak mereka, terutama siswa SD dalam mengikuti pembelajaran daring. Padahal, di situasi pandemi seperti sekarang penguasaan atas sarana pembelajaran digital menjadi sangat penting.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Digital di Purbalingga, E-Bangga, Pocadi dan Perpustakaan Desa Disebut di Webinar Literasi Digital

Di sisi lain, anak-anak di usia 5 hingga 10 tahun sedang dalam masa tumbuh kembang yang pesat dan memiliki hasrat bermain yang tinggi.

“Pembelajaran daring bukan sekadar menggeser model pembelajaran tatap muka ke media digital” kata Dr. Bevaola Kusumasari, M.Si, dosen FISIPOL UGM saat menjadi pembicara pada webinar yang diselenggarakan pada Jumat, (17/09/21).

Bevaola menerangkan belajar tidak lagi terbatas pada buku pelajaran, tetapi belajar bisa dari apapun dan di manapun. Ada beberapa pendekatan yang harus diketahui orangtua dalam membimbing anak mereka.

“Belajar sambil bermain adalah salah satu alternatifnya. Salah satu contoh adalah menyimak konten pembelajaran di YouTube atau Tiktok,” tambahnya.

Beavola juga mengatakan tidak selamanya media sosial memiliki efek negatif bagi anak, asal orang tua paham dan sadar akan hal ini tumbuh kembang anak tidak terganggu.

Tantangan bagi orangtua sekarang adalah bahwa orangtua hari ini adalah generasi migrasi digital. Mereka lahir pada saat media digital masih dalam bentuk embrio.

Sedangkan anak-anak mereka lahir sebagai generasi digital native, kata Tohar, Ketua Himpaudi Purbalingga.

“Hal ini memberi jarak pengetahuan digital antara orangtua dan anak” tambahnya.

Tohar menjelaskan bahwa kondisi ini perlu disiasati dengan jeli oleh para orangtua.

“Salah satu tugas orangtua adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi zamannya” kata Tohar.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa media digital juga dapat mengganggu tumbuh-kembang anak. Seperti penggunaan media digital yang berlebihan menyebabkan kerusakan mata pada anak dan membuat mereka sulit tidur dan beristirahat.

Selain itu, Ari Ujianto, seorang pegiat Advokasi Sosial juga menjelaskan bahwa sudah banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan di media digital.

“Sudah banyak anak yang menjadi korban kekerasan di media digital dari perundungan, perdagangan anak, penipuan, kekerasan seksual, dan lain-lain” tambahnya.

Ari juga menambahkan bahwa 90% anak Indonesia sudah terpapar pornografi. Salah satu penyebabnya adalah kelengahan orangtua dalam mengawasi anak.

“Selain mengawasi, akhirnya orangtua juga dituntut untuk menguasai perangkat dan media digital. Hal ini penting karena anak yang lebih paham soal media digital sering mengecoh orangtuanya” kata Ari.

Pada kesempatan berikutnya, Triwar Agusnila, guru SMA N 1 Bobotsari mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu disiapkan orangtua dalam membimbing anaknya.

“Selain tanggungjawab, kedua orangtua juga harus memiliki kedekatan emosional dengan anak. Ini penting agar anak bisa terbuka mengenai masalahnya” kata Nila. (ed/kartakita)