Terima Masa Aksi, Kapolres Alor Minta Waktu 2 Minggu

Alor Kartakita- Organisasi Kepemudaan di Kabupaten Alor bergabung dan membentuk Aliansi Pemerhati Perempuan dan Anak Kabupaten Alor, guna mengawal kasus Dugaan Prostitusi dan Persetubuhan dengan anak dibawah umur yang diduga melibatkan Kepala Stasisun BMKG Alor. Aliansi Pemerhati Perempuan dan anak tersebut merupakan gabungan dari oraganisasi Nasional dan Lokal yang ada di kabupaten Alor, yakni Gerakan Mahasiswa Nasisonal Indonesia (GmnI) Cabang Alor, Ikatan Mahasiswa Pulau Pantar (IMP2), Kerukunan Mahasiswa Alor Timur Laut (KEMILAU) dan Ikatan Mahsiswa Welai Lembur (IKMAWEL).

Aliansi Pemerhati Anak dan perempuan melakukan aksi dimulai dari lapangan mini menuju kekantor POLRES Alor, Selanjutnya ke Kantor Bupati Kabupaten Alor dan Kantor DPRD Kabupaten Alor. Pada saat tiba di Kantor Polres Alor, Masa Aksi di terima Oleh Kapolres Alor dan menyampaikan Aspirasinya melalui dialog terbuka yang dilakukan perwakilan – perwakilan OKP dengan KAPOLRES Kabupaten Alor.

Wens Lau, Ketua Ikatan Mahasiswa Pulau Pantar (IMP2) sebagai salah satu Anggota Aliansi yang turut mendapat kesempatan berdialog dengan Kaporles mempertanyakan mengenai kejelasan Kasus dugaan Prostitusi dan Persetubuhan dengan 3 orang anak dibawah umur yang diduga melibatkan Kepala BMKG Alor, karena menurutnya memang betul bahwa setiap kasus punya tahapan dan proses yang harus dijalani, namun sebagai mahasiswa dan oraganisasi kepemudaan tentu punya tugas untuk mengetahui dan tetap mengawal setiap proses yang berjalan, Wens juga menegaskan bahwa penjelasan mengenai kejelasan dan tahapan – tahapan penindakan kasus tersebut tentu juga akan menjadi edukasi bagi masyarakat agar kedepannya tidak akan ada masyarakat yang enggan untuk melapor, dan merasa bahwa sia – sia bila masyarakat kecil yang berurusan dengan hukum, karena baginya setiap orang, setiap masyarakat sama haknya di mata hukum.

“ Kami Aliansi Pemerhati perempuan dan anak hadir disini, di Polres Alor  guna meminta kejelasan terkait kasus dugaan prostitusi dan persetubuhan terhadap anak dibawah umur dengan 3 orang korban, yang diduga melibatkan Kepala Stasiun BMKG Alor sebagai salah satu pelaku, jika di bilang bahwa kasus ini sedang dalam proses, tentunya kami mengerti bahwa setiap kasus dalam dunia hukum mempunyai tahapan dan prosesnya sendiri,  namun sebagai Mahasiswa kami ingin tahu dengan jelas, sudah sampai dimana kasus tersebut? dan apakah ada kendala atau hambatan? mengapa seolah bergulir sangat lambat? dan kami juga ingin sama- sama melakukan pengawalan dan ingin tahu bagaimana rencana atau gambaran dari kepolisian terhadap kasus ini kedepannya? sehingga penjelasan dari bapak nanti, tentunya akan menjadi pembelajaran dan pengetahuan bagi kita semua, baik mahasiswa ataupun elemen masyarakat, sehingga masyarakat bisa tahu bagaimana penanganan terhadap kasus ini, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang merasa tidak pantas untuk melapor atau terlalu lama, terkatung – katung, apalagi berbelit – belit dan   yang paling parah adalah terjadiinya keengganan dari masyarakat  untuk percaya kepada aparat penegak hukum, sampai enggan untuk melapor, padahal semua orang sama dimata hukum”. Ujar Wens Lau dalam dialog dengan Kapolres Pada Aksi Demonstrasi Di kantor  Polres Alor. Selasa (11/8/2020).

Kapolres Alor, menjawab pertanyaan masa aliansi dengan memberikan penjelasan terkait kejelasan status dari kasus tersebut, yaitu bahwa dalam proses penyelidikan ke penyidikan tentu mengumpulkan bukti permulaan dan selama ini yang menjadi lambat adalah karena pihak Polres Alor masih mengumpulkan alat bukti untuk dapat menaikan kasus ke status penyidikan, salah satunya alat bukti berupa Surat dalam hal ini bukti hasil visum, dan pada hari sabtu (8/8/2020) hasil visum sudah keluar, sehingga sudah dilakukan gelar perkara pada senin (10/8/2020), dan Kapolres Alor berjanji bahwa secepatnya akan dilakukan penetapan tersangka, sehingga ia memastikan ke masa aksi bahwa dalam dua minggu kedepan sudah akan dilakukan penetapan tersangka dan pastinya akan ada peningkatan terhadap kasus ini .

“Jadi tentu untuk melakukan peningkatan terhadap proses suatu kasus yang ditangani oleh kepolisian bukanlah hal yang mudah, karena harus ada bukti yang cukup, yang dikenal dengan bukti permulaan dan kemarin dalam tahap penyelidikan kenapa terkesan bergulir dalam waktu yang cukup lama, karena sedang mengumpulkan alat bukti tersebut, dan akhirnya pada hari sabtu kemarin, kami sudah mendapatkan alat bukti surat, yaitu hasil visum sehingga pada hari senin, sudah dilakukan gelar perkara, jadi tentu secepatnya akan ada peningkatan terhadap kasus dan penetapan tersangka, saya rasa sekitar 2 minggu lagi, tentu akan ada penetapan tersangka”. Ujar Kapolres Alor Menjawab Pernyataan Aliansi.

Masa Aksi yang mendengar jawaban Kapolres Alor,  merasa cukup dan mereka meminta Kapolres Alor untuk menepati perkataannya terkait dengan waktu dua minggu yang dijanjikan tersebut, dan apabila dalam waktu dua minggu tidak ada penetapan tersangka dan peningkatan terhadap kasus tersebut, Masa Aksi berjanji, akan kembali melakukan Demonstrasi di Polres Alor dengan Masa aksi yang lebih banyak. Selasa (11/8/2020). (Gitur).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *