11 August 2022

Menakar Irama Politik 2024


ilustrasi dari web.kpu-kuduskab.go.id

Pertarungan pemilu 2024 masih menyisakan waktu kurang lebih dua tahun lagi, namun bagi para politikus partai waktu ini sudah sangat dekat. Konsolidasi internal partai sudah mulai berjalan karena syarat untuk mencalonkan pasangan Presiden dan Wakil Presiden harus mencapai 20% suara partai yang lolos di Senayan atau sebagai syarat presidential threshold.

Beberapa minggu terakhir para petinggi partai politik telah melakukan konsolidasi dan saling berkomunikasi untuk membentuk satu kekuatan menyambut pemilihan 2024. Diawali terbentuknya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), kemudian Partai Nasdem menyampaikan tiga nama sebagai kandidat calon presiden. Berlanjut pertemuan Partai Gerindra dan PKB termasuk komunikasinya kepada PKS dan Demokrat serta terakhir PDI Perjuangan yang menertibkan kadernya dalam Rakernas.

Koalisi Indonesia Bersatu merupakan partai yang lolos dalam parliamentary threshold namun figur elit partai belum bisa dimunculkan karena daya pilihnya sangat kecil di masyarakat, jika dibandingkan figur yang lain. Secara syarat presidential threshold, KIB bisa mengusung satu pasangan calon, artinya mesin tempur politik sudah siap, hanya saja harus menanti figur yang tepat untuk mereka sepakati. Tiga nama yang dibacakan sebagai kandidat calon presiden oleh Ketua umum Nasdem akan menjadi magnet bagi partai koalisi. Sebuah gaya khas king maker namun dari ketiga nama tersebut perpaduan elemen dan background kandidat sangat krusial, terutama background militer. Artinya, koalisi bisa menjadi, calon presiden berasal dari Nasdem, sedangkan calon wakil presiden dari partai lain.

Pertemuan ketua Gerindra dan Ketua PKB hampir memberikan sinyal positif karena dari jumlah suara partai telah terpenuhi. Selain itu, figur mereka berdua juga bisa dipastikan saling melengkapi, satu berasal dari militer, satu lagi dari kalangan agama dan aktivis. pertemuan kedua partai ini menjadi sesuatu yang ideal sebagai keputusan final untuk ditarungkan dalam 2024. Terakhir, PDI Perjuangan merupakan penentu jalannya politik 2024, pasalnya adalah mereka adalah partai pemenang dua periode karena berhasil mengukuhkan Presiden Jokowi. Walau pada Rakernas hanya menertibkan kadernya yang bermanuver dan menggambarkan ketegasan ketua umum, akan tetapi calon yang mereka usung akan menarik partai lain untuk berkoalisi.

Gambaran dinamika yang telah terjadi di atas masih tahap awal, semua akan diputuskan mendekati pemilihan umum akan berlangsung. Sampai keputusan belum dikeluarkan oleh masing-masing ketua partai maka kita akan menyaksikan berbagai manuver dan atraksi politik. Selain dari aktraksi-aktraksi yang akan kita lihat di kemudian hari, hal penting harus diperhatikan adalah berbagai isu yang akan bergulir untuk menjadi perhatian para calon. Isu-isu ini akan menarik simpatik pemilih, bahkan akan mempengaruhi suara partai di parlemen.

Dari berbagai isu yang akan dituangkan dalam program kampanye, diantaranya adalah pertahanan dan keamanan, mengingat politik global yang semakin memanas akibat perang Rusia dan Ukraina, demokrasi serta agraria yang meliputi ketimpangan lahan, kedaulatan pangan, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan dan konflik agraria. Selain itu, isu pembangunan juga sepertinya menjadi krusial karena pemerintahan hari ini banyak menyelesaikan pembangunan infrastruktur.

Hal yang menjadi penting dari semua isu ini adalah para aktivis yang melakukan advokasi, terutama yang berkaitan dengan agraria. Isu agraria telah mengantar dua presiden sampai pada singgasana dua periode, yakni SBY dan Jokowi. Aktivis yang tergabung dalam advokasi masyarakat menjadi faktor yang harus diperhitungkan untuk mendulang suara. Hanya saja hari ini sebagian besar aktivis yang berkaitan dengan agraria berada dalam lingkaran penguasa. Artinya ada kemungkinan mereka akan ikut gerbong politik penguasa untuk mendukung salah satu calon.

Terakhir adalah posisi pengusaha yang berfungsi sebagai donatur dana kampanye. Biaya operasional untuk proses pemenangan cukup besar sehingga perlu dukungan mereka. Hubungan pengusaha dan partai politik serta relawan, bila dianalogikan ibarat bensin dan kendaraan, jadi tanpa bensin, kendaraan tidak akan jalan. Hampir bisa dipastikan kolaborasi antara pengusaha, partai politik dan relawan akan terjadi.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa pasangan calon masih dinamis namun yang pasti adalah isu dan pengusaha mendukung calon. Isu sebagai program kampanye kelak dan pengusaha sebagai bahan bakar menandakan kepentingan besar yang akan dibawa oleh para calon ketika menang, sementara konsolidasi pasca pemilu akan tetap menjadi dinamika.

Andria Gustiawan Perangin-angin
Alumni GMNI